Menulis tidak ubahnya seperti mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Dalam prosesnya memerlukan sebuah mesin penggerak yang mampu memicu kerja otak, keinginan, harapan dan tujuan. Membungkus imajinasi dan kenyataan menjadi sebuah kumpulan kata-kata yang membentuk makna. Kalau boleh saya katakan, mesin tersebut adalah "passion" yang berasal dari hati. Setelah kurang lebih 1 bulan, jari jemari seperti sudah kaku untuk menjadi jembatan yang terbentang antara tebing abstrak dan bangunan sebuah tulisan. Hati dan pikiran seakan kompak untuk mengatakan, "terlalu lelah, jangan menulis dulu, nanti saja." Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak terasa, jejak tulisan sudah semakin hilang menjauh. Malam ini, saya kembali memutuskan untuk menulis secara rutin kembali. Setidaknya, sekedar untuk mengais makna yang terjadi pada hari tersebut. Saya yakin, banyak hal sebetulnya bisa menjadi bahan tulisan dari apa yang dilihat dan dirasakan. Artinya, kail diri ini harus kemba...