Skip to main content

Menulis adalah perjuangan

Menulis tidak ubahnya seperti mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Dalam prosesnya memerlukan sebuah mesin penggerak yang mampu memicu kerja otak, keinginan, harapan dan tujuan. Membungkus imajinasi dan kenyataan menjadi sebuah kumpulan kata-kata yang membentuk makna. Kalau boleh saya katakan, mesin tersebut adalah "passion" yang berasal dari hati. 

Setelah kurang lebih 1 bulan, jari jemari seperti sudah kaku untuk menjadi jembatan yang terbentang antara tebing abstrak dan bangunan sebuah tulisan. Hati dan pikiran seakan kompak untuk mengatakan, "terlalu lelah, jangan menulis dulu, nanti saja." Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak terasa, jejak tulisan sudah semakin hilang menjauh. 

Malam ini, saya kembali memutuskan untuk menulis secara rutin kembali. Setidaknya, sekedar untuk mengais makna yang terjadi pada hari tersebut. Saya yakin, banyak hal sebetulnya bisa menjadi bahan tulisan dari apa yang dilihat dan dirasakan. Artinya, kail diri ini harus kembali dipasang umpan, jalan pikiran harus terbuka lebar sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat kerja dengan harap mendapatkan ikan-ikan segar yang menjadi santapan di meja kerja. 

Benarlah apa kata Mas Fuadi, dalam sesi kelas menulis yang saya ikuti, beliau mengatakan bahwa menulis harus dari hati. Ide dan kemampuan bisa saja mumpuni, tapi apabila tidak dair hati, maka keinginan itu hanya bertahan seumur jagung. 

Hal paling utama yang perlu ditekankan adalah niat dari hati, untuk apa kita menulis? apa tujuan kita menulis? Alasan mendasar yang hakiki akan menjadi penggerak tak terkalahkan. Tidak peduli siang atau malam, sibuk atau senggang. Maka, menulis akan menjadi kebutuhan. Seperti air yang mengalir dalam diri dan akan menjadi dehidrasi apabila tidak menulis. 

Di atas adalah nasehat saya untuk diri sendiri. Diri yang sedang membutuhkan semangat agar istiqomah mengurai imajinasi dari sebuah pikiran yang luas terbentang.  


Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...