Menulis tidak ubahnya seperti mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Dalam prosesnya memerlukan sebuah mesin penggerak yang mampu memicu kerja otak, keinginan, harapan dan tujuan. Membungkus imajinasi dan kenyataan menjadi sebuah kumpulan kata-kata yang membentuk makna. Kalau boleh saya katakan, mesin tersebut adalah "passion" yang berasal dari hati.
Setelah kurang lebih 1 bulan, jari jemari seperti sudah kaku untuk menjadi jembatan yang terbentang antara tebing abstrak dan bangunan sebuah tulisan. Hati dan pikiran seakan kompak untuk mengatakan, "terlalu lelah, jangan menulis dulu, nanti saja." Hari demi hari, minggu demi minggu. Tidak terasa, jejak tulisan sudah semakin hilang menjauh.
Malam ini, saya kembali memutuskan untuk menulis secara rutin kembali. Setidaknya, sekedar untuk mengais makna yang terjadi pada hari tersebut. Saya yakin, banyak hal sebetulnya bisa menjadi bahan tulisan dari apa yang dilihat dan dirasakan. Artinya, kail diri ini harus kembali dipasang umpan, jalan pikiran harus terbuka lebar sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat kerja dengan harap mendapatkan ikan-ikan segar yang menjadi santapan di meja kerja.
Benarlah apa kata Mas Fuadi, dalam sesi kelas menulis yang saya ikuti, beliau mengatakan bahwa menulis harus dari hati. Ide dan kemampuan bisa saja mumpuni, tapi apabila tidak dair hati, maka keinginan itu hanya bertahan seumur jagung.
Hal paling utama yang perlu ditekankan adalah niat dari hati, untuk apa kita menulis? apa tujuan kita menulis? Alasan mendasar yang hakiki akan menjadi penggerak tak terkalahkan. Tidak peduli siang atau malam, sibuk atau senggang. Maka, menulis akan menjadi kebutuhan. Seperti air yang mengalir dalam diri dan akan menjadi dehidrasi apabila tidak menulis.
Di atas adalah nasehat saya untuk diri sendiri. Diri yang sedang membutuhkan semangat agar istiqomah mengurai imajinasi dari sebuah pikiran yang luas terbentang.
Comments
Post a Comment