Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

PR PENDIDIKAN

Hari ini, Ahad, 20 November 2022. Menghadiri salah satu acara yang diselenggarakan di Gelora Joko Samudro. Acara yang dimeriahkan oleh berbagai kalangan baik siswa, guru, orangtua siswa dan masyarakat umum. Acara begitu meriah. Terlebih diadakannya pameran pendidikan dan lomba mewarnai serta beberapa penampilan siswa seperti menari, puisi, reog, dan musikalisasi puisi.  Acara dibuka dengan sambutan wakil Bupati Gresik, yang begitu lantang dan semangat menyampaikan pidatonya. Beliau mendoakan agar guru selalu sejahtera dan diberikan rezeki yang berkah. Pusat kegiatan ditempatkan di halaman pintu utama Gelora Joko Samudro. Dan beberapa kegiatan seperti lomba mewarnai dan stand makanan/minuman di tempatkan sekitar halaman dan area jalan menuju pintu utama. Acara yang begitu meriah namun disini penulis melihat beberapa hal yang sekiranya dapat dijadikan pembelajaran untuk lebih baik lagi. Dimulai dari penempatan acara yang berada di area tidak cukup luas. Alangkah lebih baik jika disel...

Penantian

"Bagaimana aku mengubah dunia? Mengubah haluan nasibku saja sulit!" Sejenak termenung. Desir angin pantai membisikan sebuah harapan pada pasir-pasir yang berserakan. Damar, melarikan diri dari sebuah dunia yang tidak dimengertinya. Penantian panjang. Entah sampai kapan dan akan seperti apa. Yang jelas ia  sering menghabiskan waktu sendirian di pinggir pantai. Damar berangan-angan menjadi sebuah mercusuar yang tegap berdiri di sebrang pulau. Jadi pemandu nelayan untuk pulang. "Sudahlah, Damar. Lupakan masalahmu. Tengok sana Ibu-mu!" Karin menepuk pundak Damar yang larut dalam suasana malam ditemani bulan purnama. "Uhuk, uhuk, uhuk" Suara batuk seorang wanita yang lemah dari balik pintu. Angin pantai kini seperti menjadi musuhnya. Damar membuka pintu, "Ibu apakah obat sudah diminum?" Damar bertugas mengingatkan Ibunya untuk meminum obat. Sedangkan Karin, Kakak Damar bertugas dipagi hari. Damar sadar betul apabila Ibu-nya sudah tidak bisa kena angin...

Ruang Kelas

Selepas sholat subuh, air mata Rini berderai jatuh perlahan. Di atas sajadah. Hanya suara isak tangis kecil terdengar sayup. Lagi-lagi, ia mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya dari balik pintu kamarnya yang mungil. Pertengkaran yang selalu menyisakan sesak di dada begitu dalam. Pertengkaran yang alasannya tidak pernah dipahami Rini. Pertengkaran yang berujung Rini kembali harus pintar-pintar menutupi dengan rapat saat berada di sekolah. Dan selalu berujung bungkam seribu Bahasa kepada kedua orangtuanya. Tidak ada satu patah katapun hadir selama perjalanan Rini menuju sekolah pagi itu. Pun saat Ayahnya berbicara. Rini hanya diam dan mengangguk sesekali. Ayahnya seakan paham apa yang terjadi. Dan memilih menghargai keputusan Rini untuk diam.  Semenjak kelas 1, Rini selalu datang lebih pagi dari pada yang lain.  Ayah Rini yang selalu mengantarkannya setiap pagi. Sekaligus Ayahnya berangkat kerja ke Jakarta. Selepas subuh adalah waktu yang tepat untuk menghindari kemace...

Warisan

“Mau dimana kita tinggal nanti?” “Kemana ajah yang penting bisa hidup!” Genderang perang sedang ditabuh lagi. Seperti pagi-pagi yang lain, selalu terjadi perdebatan kecil antara Pak Sabeni dan istrinya di dapur. Mereka adalah penduduk asli yang tinggal puluhan tahun di kampung ini. Sebagian besar penduduk adalah pendatang yang tinggal dibedeng-bedeng kontrakan. Kampung ini seperti kampung kontrakan. Hampir setiap sudut gang ada kontrakan. Lima pintu sampai sepuluh pintu setiap deretnya. Pak Sabeni tanahnya luas dimana-mana. Warisan dari Bapaknya tiga puluh tahun lalu. Tapi, sekarang tanahnya tidak seluas dulu. Kerena banyak yang dijual. Mau beli motor jual tanah, mau renovasi rumah jual tanah, mau nikahin anaknya juga jual tanah. Sudah tidak terhitung berapa meter persegi tanahnya yang terjual. Kini hanya beberapa meter saja tanahnya yang tersisa. Tepat berdiri di atasnya kandang ayam. Istri Pak Sabeni melahirkan dua anak laki-laki, Bayu dan Iwan yang kini sudah berkeluarga. H...

Sepeda Gunung Rifky

30 Maret 2013 Hari Minggu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Rifky setiap akhir pekan. Saat ayam jago mulai berkokok, Rifky sudah berada di kamar mandi membersihkan diri.  Bukan untuk bersiap ke sekolah, melainkan bersiap mengisi pagi dengan bersepeda gunung.  Sejak duduk di kelas 5 SD, Rifky mendapatkan sepeda gunung  dari kedua orang tuanya sebagai hadiah atas prestasi yang diraih karena giat belajar. Kini sudah hampir satu tahun Rifky menggemari kegiatan bersepeda. Bersama dengan teman-temannya, Rifky selalu berkeliling kampung menyusuri semak dan perkebunan jati yang berjarak beberapa kilometer dari rumahnya. “Bu, besok pagi aku mau bersepeda lagi dengan teman-temanku seperti biasa” Rifky meminta izin kepada Ibu-nya. “Kamu akan pergi bersama siapa?” tanya Ibu kepada Rifky. “Aku aku akan pergi dengan temen-teman sekolahku, semua ada 3 orang” “maksudmu, Yudha, Reno dan Langga?” “Ya Bu, mereka yang selalu bersepeda bersamaku di akhir pekan” “Ibu ...