30 Maret 2013
Hari Minggu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Rifky
setiap akhir pekan. Saat ayam jago mulai berkokok, Rifky sudah berada di kamar
mandi membersihkan diri. Bukan untuk
bersiap ke sekolah, melainkan bersiap mengisi pagi dengan bersepeda
gunung. Sejak duduk di kelas 5 SD, Rifky
mendapatkan sepeda gunung dari kedua orang
tuanya sebagai hadiah atas prestasi yang diraih karena giat belajar. Kini sudah
hampir satu tahun Rifky menggemari kegiatan bersepeda. Bersama dengan teman-temannya,
Rifky selalu berkeliling kampung menyusuri semak dan perkebunan jati yang berjarak
beberapa kilometer dari rumahnya.
“Bu, besok pagi aku mau bersepeda lagi dengan
teman-temanku seperti biasa” Rifky meminta izin kepada Ibu-nya.
“Kamu akan pergi bersama siapa?” tanya Ibu kepada Rifky.
“Aku aku akan pergi dengan temen-teman sekolahku, semua
ada 3 orang”
“maksudmu, Yudha, Reno dan Langga?”
“Ya Bu, mereka yang selalu bersepeda bersamaku di akhir
pekan”
“Ibu izinkan, asal kamu pulang sebelum jam 3 sore dan
hati-hati karena malam ini hujan deras, pasti jalanannya akan licin esok hari”
“Baik Bu, terima kasih”
Waktu menunjukan pukul 07.05 pagi. Yudha, Reno dan Langga sudah berkumpul di
depan rumah Rifky. Masing-masing membawa sebotol minuman untuk melepas dahaga
saat perjalanan menyusuri jalan terjal menanjak mulai membuat lelah.
Kegembiraan tampak jelas di wajah mereka. Setiap kali akan
bersepeda gunung, perasaan mereka seperti akan berpetualang mencari harta karun.
Begitu kompak dan penuh semangat.
Perlahan mereka mulai mengayuh sepeda masing-masing
meninggalkan halaman rumah Rifky. Matahari pagi yang cerah mulai naik seakan
menambah keceriaan hari mereka. Rifky terlihat berada di barisan paling depan.
“Bagaimana kalau kali ini kita mulai perjalanan dari arah
berlawanan?” ajak Reno sambil mengayuh sepeda yang tampak yakin idenya akan
diterima.
“Kenapa memangnya?” saut Langga dengan wajah heran.
“Tidak ada apa-apa Lang.., hanya ingin merasakan sesuatu
yang berbeda saja!” jawab Reno
“Menurutku tidak ada salahnya” Rifky yang terlihat
menerima ide Reno.
“Iya Langga, menurutku juga tidak ada salahnya” Yudha
menambahkan.
“Karena menurutku, kalau kita mulai dari arah berlawanan
maka akan banyak melewati jalan menanjak, artinya kita harus lebih banyak
mengeluarkan tenaga” Langga mengutarakan alasannya.
“Kamu memang benar Langga, tapi kita bisa beristirahat
bersama-sama setiap kali kita merasa lelah” Jawab Rifky yang berusaha
menyakinkan Langga.
Dengan nada suara pelan Langga menjawab “Baiklah kalau begitu,
aku setuju”
“Hore.. teriak Reno sambil berhitung “ 1, 2, 3...” tanda
perjalanan mereka akan dimulai.
Saat melewati sebuah jembatan kecil dekat perkebunan,
mereka membelokan sepeda ke arah kiri. Sepanjang
perjalanan, terlihat banyak sekali pohon jati yang batangnya tertutup semak belukar
dan rumput hijau yang tumbuh subur. Tanah liat bercampur batu-batu kecil
menjadi penghias jalan setapak yang
hanya memiliki lebar kira-kira dua jengkal tangan mereka. Kondisnya menanjak
dan menurun. Embun pagi yang membasahi rumput dan dedaunan mulai menguap oleh cahaya
matahari yang semakin meninggi.
“Teman-teman.. kita tidak bisa lewat!” teriak Rifky yang
berada dibarisan paling depan.
“Ada apa Rif?” tanya Reno yang berada diantara Langga dan
Yudha.
“Ada pohon jati yang tumbang dan menghalangi jalan!”
Jawab Rifky.
“Ini pasti karena hujan disertai angin tadi malam” Tambah
Langga.
“Terus bagaimana kita?” Yudha bertanya.
“Bagaimana kalau kita berputar arah saja? Jawab Langga.
“Menurutku memutar arah bukan ide yang baik, kita bisa
sampai ke rumah sore hari karena perjalanan kita sudah jauh” Yudha mengemukakan
pendapatnya.
“Ya sudah kita cari jalan yang lain saja, tidak jauh
dibelakang kita ada jalan yang sepertinya bisa kita lewati” Langga menjawab.
Tanpa berfikir panjang Rifky menjawab “Ok. Kita berputar
arah kemudian belok kiri”
Mereka mengayuh sepeda dengan menyusuri jalan yang belum
pernah mereka lalui sebelumnya. Berharap menjadi jalan pintas agar dapat melewati
pohon jati yang tumbang tadi malam. Karena jalan tersebut jarang digunakan oleh
pejalan kaki, tampak rumput mulai tumbuh subur menutupi jalan. Hal ini membuat
mereka mengayuh sepeda dengan bersusah payah. Kondisnya tidak jauh berbeda,
menanjak dan menurun. Wajah mereka tampak terlihat sangat kelelahan. Rifky yang
berada di depan mulai melambatkan laju sepedanya. Namun, Rifky yakin jalan
tersebut akan membawa mereka keluar dari perkebunan pohon jati yang kondisinya sudah
seperti hutan belantara. Sudah berpuluh-puluh tahun hutan jati tersebut tidak
pernah diperhatikan lagi oleh pemiliknya. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar
berbagai macam suara binatang-binatang penghuni hutan jati tersebut. Seperti
burung-burung dan kera ekor panjang.
Yudha, Langga dan Reno tampak sangat kelelahan dan
sedikit tertinggal jauh dibelakang. Setelah menghabiskan sisa air minum masing-masing,
mereka kemudian berusaha mengejar Rifky. Kurang dari lima menit akhirnya mereka
bersama-sama kembali menyusuri jalan yang sangat sulit dilalui. Beberapa bagian
jalan tertutup semak belukar dan rumput. Hingga akhirnya mereka melewati jalan
menurun tajam seperti bukit.
“Rifky awas..” Yudha berteriak kepada Rifky saat melihat
rumput yang tinggi menutupi jurang dibaliknya. Rifky menuruni jalan sedikit
lebih cepat dari yang lain dan tidak memperhatikan dengan jelas jalanan
dihadapannya. Mendengar teriakan Yudha, Rifky dengan segera menekan rem. Namun,
jalanan yang licin membuat sepeda terus melaju, tidak berhenti seketika.
Rifky sangat panik dan berusaha untuk menghentikan laju
sepeda dengan kedua kakinya. Yudha, Langga dan Reno tampak sangat ketakutan dan
terlihat sangat tegang melihat dari kejauhan. “Rifky...” teriak mereka
bersamaan.
Sepeda Rifky terpelanting ke dalam jurang dan Rifky
berusaha memegang semak belukar sekuat tenaga karena setengah dari badannya
menggantung di jurang yang cukup dalam.
“Tolong aku..” Rifky berteriak meminta tolong kepada
Yudha, Langga dan Reno yang sudah turun dari sepeda mereka masing-masing.
Mereka berjalan perlahan dengan posisi merangkak. Menuruni bukit dengan penuh
keberanian demi menyelematkan seorang teman.
Yudha berusaha meraih tangan Rifky.
“Kamu bertahan Rif...” tangan kanan Yudha berusaha
memegang tangan Rifky sekuat tenaga. Langga dan Reno bersama-sama memegang
tangan kiri Yudha dengan posisi menunduk. Mereka menarik tangan Rifky
bersama-sama sampai akhirnya Rifky selamat.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 sore. Di teras rumah, Ibu
Rifky menunggu dengan penuh cemas. Matahari sudah hampir tenggelam. Rifky tak
kunjung datang.
Di atas bukit, Rifky membaringkan badan. Ucapan terima
kasih tidak henti-hentinya ia ucapkan kepada Yudha, Reno dan Langga. Kejadian
yang baru saja terjadi pada dirinya memberikan sebuah pelajaran yang sangat
berharga. Ia merasakan arti sebuah persahabatan. Saling membantu dalam keadaan apapun.
Kehilangan sepeda gunung tidak membuat Rifky bersedih hati. Karena yang paling
berharga adalah ia dapat kembali ke rumah bersama teman-temannya dengan selamat.
Comments
Post a Comment