Skip to main content

Warisan

“Mau dimana kita tinggal nanti?”
“Kemana ajah yang penting bisa hidup!”
Genderang perang sedang ditabuh lagi. Seperti pagi-pagi yang lain, selalu terjadi perdebatan kecil antara Pak Sabeni dan istrinya di dapur. Mereka adalah penduduk asli yang tinggal puluhan tahun di kampung ini. Sebagian besar penduduk adalah pendatang yang tinggal dibedeng-bedeng kontrakan. Kampung ini seperti kampung kontrakan. Hampir setiap sudut gang ada kontrakan. Lima pintu sampai sepuluh pintu setiap deretnya.
Pak Sabeni tanahnya luas dimana-mana. Warisan dari Bapaknya tiga puluh tahun lalu. Tapi, sekarang tanahnya tidak seluas dulu. Kerena banyak yang dijual. Mau beli motor jual tanah, mau renovasi rumah jual tanah, mau nikahin anaknya juga jual tanah. Sudah tidak terhitung berapa meter persegi tanahnya yang terjual. Kini hanya beberapa meter saja tanahnya yang tersisa. Tepat berdiri di atasnya kandang ayam.
Istri Pak Sabeni melahirkan dua anak laki-laki, Bayu dan Iwan yang kini sudah berkeluarga. Hari-hari diisi istri Pak Sabeni dengan berjualan gado-gado di depan rumahnya. Diusianya yang semakin senja. Istri Pak Sabeni selalu menunjukkan semangat yang menggelora. Menyapu halaman rumah, memberikan makan ayam-ayam peliharaan, dan menyiapkan bahan-bahan untuk jualan gado-gado. Rasa gado-gadonya cukup terkenal di kampung ini.
Bayu tinggal bersama satu atap dengan anak dan istrinya. Tidak ada yang bisa dilakukan, saat mendengar Bapaknya bersikeras ingin menjual sepetak tanah sisa bahkan terbesit menjual rumah yang ditempati sekarang. Raut mukanya datar menyimpan rasa kesal yang semakin menjadi. Pernah satu kali minta untuk tinggal di kontrakan tapi dilarang oleh Ibunya, “anakmu sudah besar dan bentar lagi mau sekolah, butuh biaya banyak.” Bayu sering mendengar pertengkaran kecil hampir disetiap hari. Berbeda dengan Bayu, Iwan tinggal sendirian dengan dua anaknya. Rumahnya tidak jauh ke arah barat.
Memiliki tiga orang cucu tidak membuat perangai Pak Sabeni berubah. Yang dipikirkan hanyalah menghabiskan uang untuk hal yang kadang tidak jelas. Pergi memancing berhari-hari dan membeli koleksi burung-burung parkit yang jumlahnya puluhan. Wataknya keras sehingga membuat beberapa tetangganya menghindar. Pertengkaran dengan tetangga pun kadang tidak bisa dielakkan.
“Pak Sabeni, gimana tanahnya dijual ‘ngga?, ada yang mau beli dengan harga tinggi, nih?”
“Siapa, Pak RT?”
“Ada pengembang yang mau bikin perumahan?”
“Wah, berapa juta per meter?”
“Sepuluh juta per meter?”
Keesokan harinya, istri Pak Sabeni mengemas barang dan pakaian. Begitupun Bayu dan keluarga kecilnya. Mereka bersiap-siap meninggalkan rumah untuk selamanya. Tidak ada rencana mau pergi kemana. Pak Sabeni hanya bilang, “kosongkan besok.” Setelahnya, tidak ada perdebatan Panjang. Hanya anggukan kecil yang terpaksa dari Bayu dan Istri Pak Sabeni.
Kardus kecil bertumpuk di depan teras rumah yang luas. Termasuk beberapa burung parkit dalam sangkar. Siap diangkut sore nanti. Tidak ada lagi keriangan bahkan canda tawa di bawah atap rumah ini. Istri Pak Sabeni seperti puasa berbicara. Diam membisu. Satu diantaranya pastilah memikirkan banyak hal, terlebih mencari pelanggan baru gado-gadonya yang pasti tidak mudah.
Iwan menghampiri, “Mak, tinggal di rumah Iwan aja dulu, yah”
“Iya, Wan. Mau tinggal dimana lagi. Bapakmu ‘ga bilang mau kemana. Duit buat ngontrak aja belum keliatan. Yang dia pikirin cuma bisa idup doang”
“Ya Udah, Mak. Iwan nanti bantu angkut barang-barang.” Iwan sangat sadar, rumahnya akan tambah sempit tapi itulah baktinya sebagai anak saat kondisi seperti ini.
Di depan teras rumah. Transaksi jual beli terjadi hanya dalam hitungan jam. Surat tanah sekarang berpindah tangan. Rumah siap diratakan. Warisan hilang tak bersisa. Pembeli menjanjikan pembayaran seratus persen esok hari. Hari berganti pembeli tak kunjung datang. Belum genap uang pembayaran dibayarkan. Surat tanah dibawa kabur oleh pengembang. Pak Sabeni gelisah. Burung-burung diajak berbicara satu per satu. Hari mulai gelap Pak Sabeni seharian tidak mau makan. Kemudian jatuh pingsan.
Pak Sabeni tersadar setelah menghirup tabung oksigen di sebuah kamar Rumah Sakit. Matanya terbuka perlahan dan bibirnya mulai bergerak, “dimana burung-burung?, Iwan tolong jaga burung-burung Bapak.”


BSD, 09 April 2020
Je Badree

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...