Selepas sholat subuh, air mata Rini berderai jatuh perlahan. Di atas sajadah. Hanya suara isak tangis kecil terdengar sayup. Lagi-lagi, ia mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya dari balik pintu kamarnya yang mungil. Pertengkaran yang selalu menyisakan sesak di dada begitu dalam. Pertengkaran yang alasannya tidak pernah dipahami Rini. Pertengkaran yang berujung Rini kembali harus pintar-pintar menutupi dengan rapat saat berada di sekolah. Dan selalu berujung bungkam seribu Bahasa kepada kedua orangtuanya.
Tidak ada satu patah katapun hadir selama perjalanan Rini menuju sekolah pagi itu. Pun saat Ayahnya berbicara. Rini hanya diam dan mengangguk sesekali. Ayahnya seakan paham apa yang terjadi. Dan memilih menghargai keputusan Rini untuk diam.
Semenjak kelas 1, Rini selalu datang lebih pagi dari pada yang lain. Ayah Rini yang selalu mengantarkannya setiap pagi. Sekaligus Ayahnya berangkat kerja ke Jakarta. Selepas subuh adalah waktu yang tepat untuk menghindari kemacetan Ibu Kota. Bagi Rini tidak masalah karena hal itu sudah terbiasa dilakukannya semenjak Kelas 1.
Di sekolah. Ibu Imas bergegas masuk ke ruang kelas hampir setiap hari pukul 6.30 pagi. Membuka empat jendela kelas yang lebar dan membersihkan papan tulis sisa pembelajaran kemarin. Bukan tanpa alasan, Ibu Imas ingin agar kelasnya dimasuki segerombolan oksigen dari beberapa pohon cemara yang tinggi menjulang di belakang gedung. Tentu saja, selain Ibu Imas sendiri, ada banyak murid yang bakal seharian bersamanya. Rutinitas dilakukannya agar kelas tetap sehat untuknya, muridnya dan juga calon bayi yang ada di kandungannya. Ya, Ibu Imas tengah hamil 6 bulan. Tidak ada satupun yang menyangka bahwa Ibu Imas tengah hamil. Karena kebiasaan Ibu Imas tidak pernah berubah, membersihkan kelas bersama murid, naik turun tangga bahkan mengangkat beberapa kebutuhan pembelajaran dilakoninya tanpa meminta bantuan siapapun. Ruang kelas diperlakukannya persis seperti rumah sendiri.
Rutinitas pagi. Satu per satu murid datang dengan mengucapkan salam dan menyapa Ibu Imas. Kebiasaan yang sudah dibangun sejak sekolah ini berdiri. Tahun 2008.
“Assalamu’alaikum, apa kabar, Ibu Imas?,” sapa Rini yang kini Kelas 5 SD. Rini sudah 2 tahun berturut-turut dengan Ibu Imas sebagai wali kelasnya.
“Wa’alaikumussalam. Kabar baik, Rini!, semoga kamu juga yah!” Jawab Ibu Imas dengan senyum merekah.
“Aku sehat, Ibu Imas,” Rini menjawab dengan senyumnya yang manis mampu menutupi luka pagi ini.
Ibu Imas kemudian berjalan dan berdiri tepat di depan kelas. Menyapa siswa lain satu persatu. Wajah cerah Ibu Imas selalu hadir dari pagi sampai sore hari. Tidak pernah lelah. Bahkan kata ‘mengeluh’ tidak masuk dalam daftar kamus Ibu Imas.
Pembelajaran pagi itu begitu bermakna dibawakan oleh Ibu Imas. Semua siswa aktif berpartisipasi, keceriaan dan keberaniaan semua siswa begitu kentara seperti biasa. Hingga tiba jam untuk beristirahat. Semua siswa berbaris dengan snack di tangan masing-masing, kecuali Rini. Di depan loker, ia masih sibuk mencari snack di dalam tasnya yang berwarna Ungu motif bunga bakung. Siswa lain sudah menunggu sekitar lima menit.
“Rini, sudah ketemu snack-nya?” Ibu Imas berusaha memastikan.
“Belum, Bu!” Jawab Rini lirih.
“Baik, Ibu akan pergi ke Kantin dengan teman-temanmu dahulu, nanti Ibu akan kembali.”
“Iya, Bu Imas.”
Setelah siswa lain berada di kantin. Ibu Imas kemudian bergegas meninggalkan mereka menghabiskan snack bersama rekan guru yang lain menuju ke ruang kelas.
“Rini!, dimana kamu?” teriak Ibu Imas sesaat membuka pintu kelas. Rini tidak terlihat. Tidak ada jawaban. Kemudian Ibu Imas berjalan perlahan menuju area loker. Hanya beberapa langkah. Kemudian mendengar suara isak tangis di balik lemari besi. Rini terduduk memeluk lututnya. Ibu Imas menghampiri.
“Rini, kamu kenapa?, kamu tidak membawa snack? Kamu bisa kok makan snack Ibu bareng teman-teman” Ibu Imas mencoba menenangkan Rini dengan tangan kanan mengelus kepala Rini. Tidak ada jawaban.
“Ya udah, Rini duduk di kursi Yuk, cerita sama Ibu Imas.” Ajakan Ibu Imas kini berhasil.
“Rini, pasti ada masalah. Ayo cerita sama Ibu Imas. Kalau bukan masalah snack, lalu masalah apa?” Kali ini, Rini tidak bisa menutupi luka yang sudah hampir setahun mengangga. Luka yang dengan apik dibalut perban kebahagiaan selama berada di sekolah.
“Maaf, Bu Imas. Aku sangat sedih hari ini. Aku sudah tidak tahan mendengar Ayah dan Ibu selalu bertengkar setiap pagi. Aku tidak ada teman bercerita. Aku sudah berusaha memendam rasa sedih ini terlalu lama” Rini begitu lancar mengutarakan isi hatinya. Tanpa ada ganjalan.
“Oh begitu, Ibu Imas sangat prihatin dengan kondisi kamu. Tapi semua masalah ada solusinya. Ibu minta kamu banyak mendo’akan Papa dan Mama kamu. Nanti Ibu Rini bantu bicara dengan mereka”
“Jangan, Ibu Imas!” Sontak Rini menolak rencana Ibu Imas untuk berbicara dengan orangtuanya. Rini lebih memilih untuk menutup rapat-rapat. Walau telah dibuka untuk Ibu Imas.
“Baik, kalau itu mau kamu, Rini. Ibu menghargai perasaan kamu. Kalau kamu sedih baiknya kamu cerita kepada Ibu. Jangan dipendam sendiri!” Tegas Ibu Imas.
Semenjak hari itu, selalu ada hari dimana Rini dan Ibu Imas berdiri dari balik jendela saat ruang kelas mulai kosong. Rini menceritakan setiap lembaran rasa hari demi hari. Rini selalu meminta Mama-nya untuk menjemput terlambat 30 menit.
Ruang kelas menjadi sebuah kotak pandora yang begitu berharga untuk Rini. Dimana Ibu Imas adalah pemegang kuncinya. Ibu Imas yang selalu membuka hati atas setiap isi hati yang diutarakan. Pohon cemara tumbuh menjadi saksi bisu perjalanan sisi lain dari seorang siswa. Hampir semua tentang kesedihan. Dengan ketulusannya, Ibu Imas tahu kapan harus memahami perasaan Rini, kapan harus mengarahkannya dengan tegas. Karena ini adalah tentang masa depan Rini. Juga, Ibu Imas sadar, Rini tidak mengerti apa-apa. Hanya menginginkan Papa-Mamanya seperti anak yang lain. Sesederhana itu.
Tidak terasa, menatap di balik jendela sudah dilakukannya hampir satu tahun. Kini Rini sudah naik ke kelas 6. Satu hal yang membuat Ibu Imas bangga. Rini sudah mampu mengelola emosi dan kenyataan yang terjadi di depan matanya. Perceraian. Di usianya yang masih belia, tentu ini hal yang sulit. Namun, bukan berarti semua hal menjadi mengerdilkan emosionalnya. Rini bertumbuh menjadi gadis dewasa dan mampu menempatkan masalah dan kewajiban sebagai seorang siswa Sekolah Dasar yang masih membutuhkan perhatian. Rini selau menunjukkan kedewasaan dalam bertindak dan bertutur kata.
Comments
Post a Comment