Skip to main content

Penantian

"Bagaimana aku mengubah dunia? Mengubah haluan nasibku saja sulit!"

Sejenak termenung. Desir angin pantai membisikan sebuah harapan pada pasir-pasir yang berserakan.

Damar, melarikan diri dari sebuah dunia yang tidak dimengertinya. Penantian panjang. Entah sampai kapan dan akan seperti apa. Yang jelas ia  sering menghabiskan waktu sendirian di pinggir pantai.

Damar berangan-angan menjadi sebuah mercusuar yang tegap berdiri di sebrang pulau. Jadi pemandu nelayan untuk pulang.

"Sudahlah, Damar. Lupakan masalahmu. Tengok sana Ibu-mu!" Karin menepuk pundak Damar yang larut dalam suasana malam ditemani bulan purnama.

"Uhuk, uhuk, uhuk" Suara batuk seorang wanita yang lemah dari balik pintu. Angin pantai kini seperti menjadi musuhnya.

Damar membuka pintu, "Ibu apakah obat sudah diminum?" Damar bertugas mengingatkan Ibunya untuk meminum obat. Sedangkan Karin, Kakak Damar bertugas dipagi hari.

Damar sadar betul apabila Ibu-nya sudah tidak bisa kena angin pantai yang semakin kencang. Tapi apa daya, Damar tidak mampu membujuk Ibu-nya untuk pindah jauh ke daratan. Mereka hanya tinggal bertiga di sebuah rumah sederhana. Sebagian besar dindingnya terbuat dari papan.

"Ibu. Bagaimana kalau kita pindah rumah bulan depan? Sekarang sudah saatnya. Sudah 6 bulan. Rumah sudah disiapkan oleh Paman. Kondisi Ibu harus menghindari angin pantai agar sakit Ibu segera sembuh. Seperti kata dokter kemarin"

"Damar, Ibu masih mau bertahan disini. Ibu masih memiliki harapan yang besar. Ibu yakin suatu saat nanti Ayahmu akan pulang"

"Tapi, Bu! Ayah sudah tidak pulang berbulan-bulan. Ibu sendiri yang mengingatkan agar aku berusaha mengikhlaskannya"

"Iya, Damar. Tapi hati Ibu masih meyakini, Ayahmu masih hidup"

Sekian kalinya, Damar membujuk Ibunda tercinta. Di atas ranjang besi yang mulai reot. Damar menemani Ibunya beristirahat, sampai tertidur. Damar memilih tidur di lantai.

Cahaya langit begitu indah menjelma menjadi mega keemasan. Pagi adalah waktu terindah dari sebuah pantai untuk dinikmati. Nyiur terdiam dalam kebekuan. Menunggu mentari membangunkan.

"Damar..., Ibu...,!" Karin berteriak dari teras rumah ketika sedang menyapu lantai. Pandangan terusik oleh sebuah benda yang mengapung. Seperti sebuah kapal. Sapu ijuk di lemparkannya dan berlari ke bibir pantai. Rumah mereka berjarak 300 meter dari pantai.

"Karin!" Damar berlari mengejar Karin. Ibu masih jalan tertatih-tatih jauh di belakang.

Mereka bertiga berdiri tegap menatap benda yang mengapung terbawa ombak. Semakin dekat.

Ibu terduduk lemas di atas pasir yang lembut. Berlutut. Kedua kakinya sedikit basah tersapu ombak.

"Itu kapal Ayah kalian" Ibu menyakinkan pada Karin dan Damar.

"Benarkah?" Damar semakin penasaran.

"Ayah..." Karin berteriak begitu kencang. Tidak ada pergerakan dari kapal yang terombang-ambing itu.

Ombak seperti terhenti. Udara pagi seperti membeku. Batang nyiur semakin menunduk. Mereka menyaksikan sosok mayat yang terbujur kaku telungkup memeluk sebuah papan.

Damar meneteskan air mata. Hatinya kembali bergetar. Inilah cinta sejatinya yang sudah lama menjadi tawanan rindu. Rindu pada sang Ayah yang pergi berlayar mencari ikan namun tidak kembali. Belum ada yang mengalahkan rindunya. Begitu kuat seperti karang.

Kapal mendekat. Damar berjalan menembus dinginnya air pantai hingga membasahi bajunya. Menarik kuat ke arah Ibu dan Karin.

Damar memberanikan diri membalikan tubuh dengan menarik bajunya yang masih bersih.

Karin histeris. Damar menangis. Ibu menunduk. Ayah mereka hanya meninggalkan sebuah pesan dalam sebilah papan. Pesan yang dituliskan dengan tinta yang masih berbau amis:

"Ayah merindukan kalian semua. Jaga Ibu kalian"

 

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...