Skip to main content

Yoshie


BSD, 24.10.2020

Kali ini sedikit berbeda. Saya ingin rasanya bercerita tentang kucing pertama yang kita miliki bernama Yoshie. 

Yoshie kita adopsi ditahun 2014 dari salah seorang rekan kerja saat Yoshie berumur sekitar 5 bulan. Saya sempat bertanya kenapa namanya Yoshie, ternyata Yoshie memiliki kembaran yang bernama Noya. Saat itu kedua kucing ini lahir di daerah Bintaro saat pemiliki sedang melakukan perjalanan ke Jepang. 

Tidak mudah memutuskan untuk mengadopsi kucing, karena artinya harus siap dengan berbagai kemungkinan seperti garuk kursi dengan cakarnya, pipis sembarangan, dll. Namun, akhirnya kita memutuskan untuk adopsi seekor kucing yang saat itu tidak peduli kucing jenis apapun. Mau kucing kampung atau anggora. Tidak masalah. 

Yoshie adalah kucing yang pintar. Banyak hal yang bisa dilakukannya, seperti membuka kunci kandang, membuka pintu rumah dengan cara meloncat, nurut untuk tidak masuk rumah saat sedang di pel dan yang paling luar biasa adalah pernah membawa 2 anak kucing ke rumah yang entahlah anak kucing siapa karena Yoshie adalah seekor kucing jantan. 

Awal-awal bersama kita, Yoshie masih mau tinggal di dalam rumah. Namun, seiring waktu lebih memilih untuk dilepas di luar rumah. Saat itu kita sudah pasrah karena mungkin tidak akan kembali. Tapi ternyata, Yoshie kucing yang setia. Selalu kembali ke rumah setelah lama tidak pulang. Bahkan, Yoshie selalu ikut saat saya per ke Masjid dan menunggu di beranda Masjid ketika subuh. Begitupun ikut saat istri pergi membeli sayur beberapa meter dari rumah. 

Tidak terasa, Yoshie sudah bersama kita hampir 7 tahun. Terlihat semakin menua dan sering sakit. Pun semakin mencari perhatian dengan lebih memilih untuk banyak diam di rumah. Sempat tidak mau makan dan kita pilihkan menu kesukaannya, daging. Namun itupun tidak mau. Ternyata mau makan setelah ditemani. 

Semoga Yoshie menjadi kucing yang selalu bahagia. Terima kasih sudah mengisi hari-hari bersama kita, pecinta kucing. Setidaknya, kita belajar untuk bersabar saat Yoshie rewel dan tidak mau mendengar perintah. Mengambil pelajaran tentang sebuah masa tua yang semua akan berbeda. 

#Ditulis langsung saat kita sedang berjemur bersama :)



Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...