Skip to main content

HARAPAN

 17 Agustus 2020

Merdeka! Siapa yang ingin dirinya dikekang? Saya rasa tidak ada. Bahkan saya sendiri. Ingin menjadi orang yang merdeka! Menjadi merdeka memang tidak mudah. Semua membutuhkan perjuangan. Seperti halnya apa yang sudah dilakukan oleh para pahlawan, keluarga dan semua penduduk dahulu ketika mempertaruhkan nyawa demi sebuah kata "merdeka." Tidak ada lagi kepentingan pribadi, semua berjuang bersama untuk mengusir penjajah.

Kemerdekaan adalah hal yang sangat patut kita syukuri. Kemerdekaan sebagai sebuah negera sudah diraih. Kemudian, apakah cukup sampai disitu? Tentu tidak! Kita semua memiliki tugas luhur yang diberikan oleh para pendahulu, salah satunya yang dituangkan dalam UUD 1945. 

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Semua usaha yang diberikan oleh para pejuang, kecil maupun besar adalah sesuatu yang tidak bisa dielakan sebagai anugerah dari Allah SWT. Semoga Alllah SWT menjadikan usaha para pejuang sebagai jihad fii sabilillah. Di hari yang spesial ini, saya ingin menjabarkan sedikit tentang arti merdeka dari sisi sebagai seorang anak manusia. 

Patut kiranya apabila kita bertanya pada diri sendiri. Apakah diri ini benar-benar sudah merdeka? Merdeka dari keinginan-keinginan dunia yang kerdil dan sesaat. Apakah diri sudah berjuang untuk memalingkan diri dari iming-iming kenikmatan dunia? Nyatanya, memang tidak mudah karena kita hidup diantara banyak manusia. Ada status sosial yang ingin kita terus daki. Berbeda kondisinya apabila kita hidup sendiri atau berdua saja di sebuah pulau terpencil. Status sosial kemudian tidaklah penting. 

Mungkin diri ini masih seperti penjajah. Ketika orang lain masih merasa terkekang atau tersakiti oleh cara kita bertindak dan bertutur kata. 

Mungkin diri ini masih terjajah. Ketika kata hati tidak lagi didengar melainkan nafsu yang diperjuangkan. Walau menyesal kemudian. 

Mungkin diri ini belum merdeka. Ketika tujuan akhir kehidupan adalah untuk sesuatu yang singkat. Seperti usia dunia yang tidak ubahnya sejauh satu kedipan mata. 

Semoga masih ada harapan yang bisa ditorehkan hari ini. Harapan untuk terus berjuang memerdekakan diri menjadi insan yang seutuhnya. Sebagaimana Allah swt menciptakan dan menugaskan diri di dunia. Selamat berjuang!




Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...