Pagi di hari Senin yang menawan.
Belum ada secangkir kopi yang disajikan seperti biasa.
Aku menunggumu di ujung batas hari penantian. Membayangkan seseorang yang berjalan perlahan dengan senyum murni tanpa perisa buatan.
Pagi ini tetap sunyi tanpa denting pertemuan cangkir dan sendok.
Selama seminggu.
Aku berbicara dengan diri sendiri. Sesekali pada meja, kursi, dan bantal.
Seminggu lalu.
Nafas terasa sesak tanpa oksigen kehadiranmu yang menyegarkan.
Matahari segera datang dalam hitungan menit.
Bersamaan dengan suara denyit gerobak yang didorong kakek tua tanpa alas kaki.
Karena itulah aku memandang dunia seperti kejam.
Menyekapku sendirian dan berjalan di atas aspal yang berlubang.
Seperti dirimu yang menahanku dalam penderitaan berkepanjangan.
Menunggumu.
Sangat mewakili isi hati seluruh rakyat Indonesia mister
ReplyDelete