Pepohonan berdiri tegak diantara jalan setapak. Akarnya menyembul begitu gagah. Batangnya sesekali tersenyum karena oksigennya pagi ini terhirup tanpa sisa. Orang-orang terus berlari dan berlari melewatinya. Dikejauhan, terlihat jembatan rapuh namun begitu menggoda untuk dilewati. Kenapa tidak, diseberangnya bergumul asap tebal menyajikan wewangian sate yang menggoda. Nampak kue-kue berbaris rapi menyapa begitu hangat. Tanpa berpikir panjang banyak orang yang melewatinya. Kemudian jembatan bergoyang dan berbisik "krek. Krek. Krek".
Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang
Comments
Post a Comment