Skip to main content

Ketika Air Mengajari Kita

Jamaludin Elsobry
Bintaro, Maret 2009

Air situ Gintung
Terkurung dalam sangkar pelipur lara sekian lama
Teman duduk ketika makan dan mencari ikan
Tidak kami sadari bahwa engkau telah beranjak dewasa
Sangkar itu tidak cukup lagi bagi engkau
Salah kami bila engkau memang memaksa

Begitu besar hasratmu untuk keluar
Berlari kesana kemari
Mencari pengganti sangkarmu
Tidak peduli malam atau pagi hari
Hingga kami semua terbangun dalam kegelapan
Tubuh basah kuyup penuh lumpur yang berserakan

Jika engkau telah membangunkan kami dengan caramu
Semoga hati ini terbangun untuk penciptamu
Jika engkau telah mengajarkan kami agar segera berbenah diri
Maka akan kusambut engkau dengan penuh suka hati

Warnamu memang tidak jernih
Wajahmu tidak pula rupawan
Sikapmu memang tanpa belas kasihan
Teriakan wanita, pria, dan anak-anak tidak engkau hiraukan
Kasur dan tikar engkau hancurkan
Mengalir bersama puing-puing rumah yang bertabrakan

Kni...
Ajarilah kami dengan ketenanganmu
Ketika kami sedih kehilangan keluarga kami
Ajarilah kami dengan kekuatanmu
Ketika kami rapuh dalam iman kami
Ajarilah kami dengan manfaatmu
Ketika kami hanya memikirkan diri sendiri
Ajarilah kami untuk memahami
Bahwa semua akan kembali kepada illahi robbi

Comments

Popular posts from this blog

Cinta Berpulang

  Gresik, 04.12.2021 Ada bahasa sederhana yang tak ku mengerti Tak bisa aku baca dengan huruf besar dan kecil  Seperti inikah rasanya? Hambar di tengah lautan garam Termenung di serambi cinta yang ramai Di atas bara api aku memandangmu, dari kejauhan Sejak saat itu aku menunggu sampai kau pulang dan perlahan hancur menjadi abu Cintaku telah berpulang Menguburkan diri dalam tanah gersang tujuh musim kemarau Tidak ada harapan maupun senyuman kepergian Kini, aku berpangku tangan pada kewarasanku  Mengucapkan: sampai bertemu kembali, pada cinta yang berpulang

Andai Sakit Memberi Kabar

Ciledug, 4 April 2009 Jamaludin Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang lengkap Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan segelas air dan sekeranjang buah yang segar Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan sebutir obat yang mujarab Andai sakit memberi kabar.. Maka sehat ini akan mencari rumah sakit terbaik dan dokter terbaik Andai sakit memberi kabar… Maka sehat ini akan menyiapkan tempat tidur terbaik yang tebal dan empuk Andai sakit memberi kabar… Maka undangan akan cepat meyebar agar semua berdo’a menghalau kedatangannya Andai sakit memberi kabar… Maka akan kuselesaikan semua masalah dengan segera agar tak menjadi beban fikiran ketika peyembuhan Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kuhabiskan waktu sehat bersama orang-orang terdekat Andai sakit memberi kabar.. Maka akan kubuat jadwal besuk agar tidurku tetap nyenyak di kasur yang empuk Andai sakit memberi kabar… Maka akan aku...

Warna Warni Hari ini: Allah Masih Sayang Kita

Rancabungur, Bogor Sabtu, 20 November 2021 Pagi hari, kami menyempatkan diri untuk pergi ke Pabangbon setelah kami mengunjungi Orangtua di Pondok Bitung, Bogor. Pabangbon adalah tempat wisata yang telah lama kami dengar di sekitar Ciampea, Leuwiliang. Sempat ragu, namun akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah 1.5 jam melewati kemacetan yang tiada berujung dari Pasar Laladon sampai Ciampea, akhirnya kami memasuki wilayah Pabangbon. Perasaan berbunga-bunga ketika melewati jalan berliku dengan dikelilingi pemandangan gunung yang indah. Udara segar menambah kebahagiaan sepanjang jalan. Jalur yang menanjak dan menurun membuat motor kami sempat kehilangan tenaga. Hampir semua tanjakan berkelok bisa kami lewati sampai akhirnya di depan kami terbentang jalan yang sangat menanjak curam. Motor kami berhenti di tengah tanjakan. Walhasil, istri memutuskan turun dan berjalan kaki. Kami melanjutkan perjalanan. Setelah hampir 2 KM menuju Pabangbon, motor kami kehabisan tenaga kembali d...